Maraton di Sigi, Henri Kusuma Muhidin Jemput Aspirasi Akar Rumput di Langaleso
- account_circle Ica
- calendar_month Selasa, 28 Jul 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sigi, Libunews.id ā Setelah sehari sebelumnya menampung keluh kesah warga Desa Tulo, Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, H. Henri Kusuma Muhidin, S.E., kembali melanjutkan maraton politiknya. Dalam rangkaian Reses Masa Persidangan ke-III Tahun Kedua 2026, politisi GolkarĀ ini menyambangi Desa Langaleso, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, Selasa (21/07/2026).
Kedatangan Henri di Langaleso tidak disambut dengan formalitas birokrasi yang kaku, melainkan dengan ruang dialogis yang hangat. Warga tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk langsung menodong sang wakil rakyat dengan deretan persoalan riil, mulai dari kebutuhan infrastruktur hingga desakan peningkatan kesejahteraan ekonomi desa.
Bagi Henri, masa reses adalah instrumen kalibrasi. Ia secara tegas menolak paradigma pembangunan yang “pukul rata” dari pemerintah provinsi. Menurutnya, dokumen perencanaan APBD akan menjadi cacat bawaan jika tidak dirumuskan berdasarkan anatomi kebutuhan spesifik di masing-masing desa.
“Setiap wilayah memiliki anatomi kebutuhan dan persoalan yang berbeda. Pembangunan tidak bisa disamaratakan. Karena itu, saya turun untuk mendengar langsung apa yang menjadi urat nadi persoalan di Desa Langaleso. Aspirasi hari ini bukan sekadar catatan, melainkan amunisi perjuangan kami di DPRD,” urai Henri merespons tuntutan warga.
Ia memastikan bahwa setiap masukan dari masyarakat akan dikonversi menjadi Pokok-Pokok Pikiran (Pokir) yang akan dihadapkan langsung dengan eksekutif dalam meja pembahasan anggaran.
Dalam perbincangan dua arah tersebut, Henri tak lupa memberikan edukasi politik. Ia menekankan bahwa roda pembangunan daerah tidak bisa berjalan dengan sistem “Sinterklas”, di mana masyarakat hanya bertindak sebagai penerima pasif. Komunikasi politik antara warga dan wakil rakyat harus terus dihidupkan untuk mengawal setiap rupiah yang turun ke desa.
Di sisi lain, Henri juga bersikap realistis di hadapan konstituennya. Ia memberikan pemahaman bahwa realisasi aspirasi akan sangat bergantung pada postur kewenangan dan ruang fiskal yang dimiliki oleh pemerintah daerah.
“Yang terpenting adalah menjaga ritme komunikasi dan kebersamaan. Aspirasi ini akan kami tampung dan eksekusi sesuai dengan skala prioritas dan kemampuan anggaran. Harapannya, harapan warga Langaleso ini bisa kita realisasikan secara bertahap, namun pasti,” pungkasnya.
Melalui manuver turun ke bawah ini, Henri Kusuma Muhidin kembali membuktikan bahwa jarak antara gedung parlemen di Palu dan denyut nadi masyarakat Sigi dapat dipangkas lewat komunikasi langsung di akar rumput.
- Penulis: Ica
- Editor: Libubews.id

Saat ini belum ada komentar