DPRD Sulteng Dorong Tenun Buya Subi Donggala Menembus Pasar Global
- account_circle Zainal
- calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
- print Cetak

Ketua Komisi IV DPRD Sulteng, Mohammad Hidayat Pakamundi saat menghadiri ajang Buya Subi Festival 2026 di Pantai Towale, Kabupaten Donggala, Selasa (07/07/2026). (Foto: Humas DPRD Provinsi Sulteng/Zainal)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Donggala, Libunews.id – Pesisir Pantai Towale, Kecamatan Banawa Tengah, Kabupaten Donggala, disulap menjadi panggung mode berkelas internasional pada Selasa (07/07/2026). Di bawah temaram jingga matahari terbenam, selembar demi selembar mahakarya tenun lokal dipamerkan dalam ajang Buya Subi Festival 2026.
Dengan mengusung tema “Handmade For The Earth”, perhelatan ini tak sekadar memanjakan mata, melainkan menjadi pembuktian bahwa warisan leluhur Sulawesi Tengah siap bertarung di panggung ekologi dan fashion dunia.
Mengawal visi besar tersebut, Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, Mohammad Hidayat Pakamundi, hadir langsung memegang mandat mewakili Ketua DPRD Provinsi Sulteng. Ia berada di barisan terdepan bersama Wakil Gubernur Sulteng dr. Reny A. Lamadjido, jajaran Forkopimda, serta figur penting berskala internasional, yakni CEO Eco Fashion Week Australia (EFWA).
DPRD Provinsi Sulawesi Tengah memberikan atensi penuh terhadap manuver Dinas Pariwisata Provinsi Sulteng yang berhasil menggandeng EFWA. Langkah ini dinilai sebagai terobosan radikal untuk mengubah cara pandang publik: dari sekadar kain tradisional menjadi komoditas ekonomi kreatif (eco-fashion) bernilai tinggi.
Di hadapan para perajin, desainer, dan pemangku kebijakan, Mohammad Hidayat Pakamundi menegaskan bahwa tenun Buya Subi memiliki daya tawar yang sangat kuat jika dikelola dengan pendekatan yang modern dan berkelanjutan.
Namun, ia menitipkan satu catatan kritis dari parlemen. Hidayat menolak keras jika festival ini ke depannya hanya berakhir sebagai rutinitas kalender pariwisata yang hampa makna.
“Saya berharap Buya Subi Festival tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan. Ruang kolaborasi ini harus melahirkan inovasi riil, membuka keran investasi, memperluas akses pasar bagi produk lokal, dan memperkenalkan warisan budaya Sulteng ke dunia dengan pendekatan yang ramah lingkungan,” tegas Hidayat Pakamundi.
Lebih dari sekadar urusan catwalk dan estetika busana, Komisi IV DPRD Sulteng melihat festival ini sebagai katalisator pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi akar rumput. Sinergi antara pemerintah daerah dan mitra global membuktikan bahwa budaya lokal dapat menjadi jembatan diplomasi ekonomi yang menguntungkan perajin, desainer, dan pelaku UMKM di Sulawesi Tengah.
“Mari kita jadikan momentum ini sebagai semangat bersama. Menjaga kelestarian alam, melestarikan budaya, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui sektor pariwisata dan ekonomi kreatif,” urai Hidayat, menyuntikkan optimisme.
Politikus ini meyakini, dengan kolaborasi lintas sektor yang kuat, Sulawesi Tengah tak hanya akan dikenal karena kekayaan sumber daya alamnya, tetapi juga sebagai episentrum budaya yang berdaya saing dan destinasi unggulan di mata dunia.
Gelaran Buya Subi Festival 2026 diparipurnakan dengan suguhan Sunset Fashion Show yang memukau. Para model berlenggak-lenggok memamerkan busana kontemporer berbahan dasar tenun Buya Subi, ditutup dengan penyerahan cendera mata eksklusif kepada CEO EFWA.
- Penulis: Zainal
- Editor: Libunews.id

Saat ini belum ada komentar