Marlela Kupas Tuntas Pelemahan Rupiah dalam Kajian Interaktif di FEB UNTAD
- account_circle NM
- calendar_month Selasa, 18 Agt 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Palu, Libunews.id – Isu strategis terkait fluktuasi mata uang nasional menjadi sorotan tajam di ruang akademik. Mewakili pimpinan Komisi II DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, Anggota Komisi II Dra. Marlela, M.Si., hadir sebagai narasumber utama dalam forum kajian interaktif bertajuk “Pelemahan Nilai Tukar Rupiah: Krisis Kepercayaan Pasar atau Dampak Struktur Ekonomi Nasional?”, Sabtu (15/08/2026).
Diskusi ilmiah yang diselenggarakan di ruang Smart Class Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tadulako (FEB UNTAD) tersebut turut dihadiri oleh Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah Mithacul Choiri, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FEB UNTAD, jajaran dosen, serta perwakilan mahasiswa dari berbagai fakultas di lingkungan kampus “Bumi Tadulako” tersebut.
Dalam pemaparannya, Dra. Marlela, M.Si., mengupas dinamika pergerakan nilai tukar rupiah secara mendalam dari berbagai sudut pandang. Menurutnya, pelemahan nilai tukar tidak bisa direduksi hanya akibat satu faktor tunggal atau semata-mata diukur dari krisis kepercayaan pasar.
Politisi dan legislator perempuan ini menilai bahwa kondisi tersebut berkaitan erat dengan akumulasi faktor fundamental struktural ekonomi nasional—mulai dari kinerja perdagangan, arus modal asing, konsistensi kebijakan fiskal dan moneter, hingga tekanan dinamika ekonomi global yang bergerak cepat.
“Pelemahan rupiah perlu dilihat secara komprehensif. Kita tidak boleh terburu-buru menyimpulkan bahwa kondisi ini semata-mata disebabkan oleh krisis kepercayaan pasar. Ada faktor fundamental dan struktural ekonomi yang juga harus menjadi perhatian,” ungkap Marlela di hadapan para akademisi dan mahasiswa.
Ia menekankan bahwa penguatan fundamental ekonomi nasional menjadi harga mati yang harus dikerjakan bersama.
Langkah strategis tersebut meliputi peningkatan produktivitas domestik, penguatan industri dalam negeri, percepatan hilirisasi guna memberikan nilai tambah komoditas, hingga peningkatan daya saing produk ekspor di kancah internasional.Di sisi lain, Marlela juga menyoroti pentingnya merawat kepercayaan publik dan pelaku usaha terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintah. Komunikasi publik yang transparan dan stabilitas regulasi dinilai krusial untuk meredam gejolak psikologis pasar serta menjaga ekspektasi positif para investor.
“Yang paling penting adalah bagaimana menjaga kepercayaan sekaligus memperbaiki fundamental ekonomi. Stabilitas rupiah pada akhirnya harus ditopang oleh struktur ekonomi nasional yang kuat, produktif, dan berdaya saing,” pungkasnya.
Melalui forum dialog akademik ini, DPRD Sulteng berharap kalangan kampus dapat terus menjadi mitra strategis pemerintah dan legislatif dalam melahirkan gagasan-gagasan konstruktif, memperkuat literasi ekonomi masyarakat, serta mengawal ketahanan ekonomi daerah di tengah tantangan global yang kian kompleks.
- Penulis: NM
- Editor: Libunews.id

Saat ini belum ada komentar